Kadin Kepri Mendesak Pemerintah Segera Tindaklanjuti Biaya Tinggi Pelabuhan Batam

Channel Batam – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kepri bersama Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri dan Tim Koordinasi Percepatan Pemulihan Ekonomi Daerah Kepri melakukan pertemuan dengan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, di Jakarta pada Kamis (10/2/2022) untuk menyampaikan permasalahan tingginya biaya logistik di pelabuhan Batam. Pasalnya biaya pelabuhan di Batam saat ini telah mencapai 3 sampai 4 kali lipat dari tarif yang berlaku di Perka BP Batam Nomor 34 Tahun 2021.

Tingginya biaya logistik ini tidak terlepas dari fakta bahwa semua kontainer ekspor maupun impor ke Batam harus melalui transit di pelabuhan Singapura yang memberi peluang ke pihak-pihak tertentu untuk membebani biaya yang tinggi kepada pelaku usaha, atau dikenal sebagai biaya transhipment. Sebelumnya masalah ini tidak pernah mendapat perhatian dan penyelesaian dari BP Batam.

Menindaklanjuti hal tersebut, Tim Menko Perekonomian yang dipimpin oleh Sesmenko Susiwijono mengadakan pertemuan di Batam pada 25 Februari lalu bersama dengan BP Batam, Kadin Kepri, Kadin Batam, Apindo Kepri dan Apindo Batam. Rapat yang bertempat di Hotel Marriot Harbourbay yang dipimpin langsung oleh Sesmenko Perekonomian ini dilakukan untuk membahas masalah biaya logistik yang menjadi salah satu hal yang dikeluhkan para pelaku usaha di Batam.

Terhadap hal tersebut Akhmad Ma’ruf Maulana selaku Ketua Kadin Kepri sekaligus Ketua Tim Koordinasi Percepatan Pemulihan Ekonomi daerah Kepri meminta pemerintah pusat dan BP Batam jangan hanya mendengar, melihat, dan mencatat permasalahan saja, melainkan dapat berperan aktif dan tanggap dalam menindaklanjuti permasalahan ini.

Pihak yang berwenang terhadap lokasi atau teritorial diminta dapat mengambil sikap tegas untuk melakukan perubahan-perubahan terkait biaya logistik yang tinggi ini. Dibutuhkan solusi penyelesaian yang konkrit agar tarif logistik di Batam dapat diturunkan. Pasalnya selama ini Batam juga telah kehilangan banyak kesempatan untuk menarik investor akibat biaya logistik yang tidak bersaing.